Make your own free website on Tripod.com
Konferensi Lintas Dimensi
Rakyat
Radio & TV Online
Mati Ketawa Cara Saya
Musik & Film Online
Tentang Cinta
Kamus & Buku Online
Pencerahan
Info Penting
My Songs
My Cerpen
My Novels
My Poems
My Articles
Karya Kawan
About Me

Butiran2 halus berwarna putih menyapa rambutku yang tak teratur diterjang angin pergantian musim, langit sedang gembira menurunkan manik2 putihnya untuk dinikmati makhluk2 bumi. Salju yang telah membelai bumi sudah mulai mengeras, membuatku harus berhati2 karena licinnya jalan. Minus 1 derajat tadi kulihat, dan malam ini akan semakin dingin nampaknya. Aku sangat lelah setelah seharian bekerja, sehingga jalan setapak menuju ke rumah pun rasanya sangat panjang. Masih juga kulihat tetangga2ku saling melempar salju sambil tertawa gembira, aku pun ingin bergabung, tapi rasanya malas juga, dingin nampaknya merayuku untuk segera menyambut hangatnya kamarku.

Kubuka pintu kamarku, kunyalakan lampu, hhmmm ada surat, dibungkus amplop berwarna biru dengan tulisan di pojoknya "Very Confidential". Tergesa2 kubuka surat itu, tak biasanya aku menerima surat dengan tulisan very confidential, pasti ada sesuatu yang sangat penting di dalam surat itu.

"Anak muda,

malam ini jam 12.00 tengah malam, kutunggu kamu di Meeting Point kita seperti biasanya. Awas kalau tidak datang.

Tertanda,

tuhan"

tuhan, ah dia lagi. Not in the right time, seenaknya saja dia bikin undangan tanpa konfirmasi dulu. Padahal dia pasti tahu kalau aku hari ini sangat capek, karena habis kuliah aku langsung kerja hingga malam. Pake intimidasi lagi, pake awas2an. Kurang ajar memang dia, dari dulu selalu begitu. Walaupun aku juga kurang ajar sebenarnya, kalau mau ketemu dia juga seenak perutku, kapanpun aku mau.

tuhan : "Ehem...ehemmmm...anak muda, matahari, dan bumi.....kalian kuundang dalam pertemuan ini untuk kumintai pendapat tentang konstelasi tata surya kalian saat ini, aku hanya agak prihatin, koq akhir2 ini aku sering dapat laporan dari Jibril kalau ada semacam keresahan global. Semakin banyak yang menggunakan namaku untuk hal2 yang tidak baik. Semakin banyak yang mempertanyakan dan meragukan keberadaanku, bahkan semakin banyak pula yang sama sekali tak percaya keberadaanku. Mulai ada pula yang mencari "theory of everything". Terus terang aku tersinggung mendengar laporan Jibril, kehebatan dan keagunganku sebagai tuhan terhina, dan aku lebih tersinggung lagi, karena yang menghinakan hanyalah makhluk jelek macam kalian."

matahari : " Sabar...sabar... Yang Mulia. Yang melakukan itu cuma binatang yang mengaku manusia itu Yang Mulia. Hamba, Matahari.., akan selalu mengagungkan Paduka. Hamba masih setia mengemban tugas menghidupi tata surya. Walau terus terang, tugas yang Paduka limpahkan kepada hamba sebenarnya tugas yang amat membosankan. Tapi percayalah, hamba akan selalu menjunjung tinggi arasy Paduka."

bumi : "Iya...iya...hamba juga setuju pada pendapat Matahari Paduka Yang Mulia. Hanya manusia saja yang merusak tatanan kosmos Paduka, hamba pun merasa malu sebenarnya dihinggapi tubuh hamba oleh manusia. Tapi ya bagaimana lagi, itu sudah menjadi tugas hamba. Walaupun hamba jijik, tapi hamba tetap melakukannya demi kesetiaan hamba pada Paduka Yang Mulia. Lihatlah diri hamba Paduka, yang cantik molek, biru menarik, indah menawan. Dalam tata surya hambalah yang tercantik dan terindah Paduka. Manusia2 itu pula yang mau merusak keelokan hamba, tapi hamba bersabar. Karena apapun yang Paduka berikan kepada hamba, hamba yakin itulah yang terbaik buat hamba."

Aku tersenyum2, mau tertawa tapi gak tega, narsis juga bumi ini, bisa2nya pamer di depan tuhan. Dalam kegelapan pembicaraan ini, terus terang aku masih agak kebingungan, aku tak bisa melihat apa2. Otakku berpikir keras dari tadi, ada rasa takut juga, gila...yang datang dalam pembicaraan ini matahari, wah wah bisa hancur berkeping2 diriku ini, mungkin tidak hancur, lenyap tanpa bekas bahkan. Helium dan hydrogen dalam tungku fusi dan fisi yang mampu menggeletarkan ruang dan waktu, aku jadi merinding membayangkannya.

tuhan : "Anak muda, kamu jangan diam saja. Tenang..tenang...aku tahu apa yang kamu takutkan. Dimensi panas matahari sudah kuredam, jadi jangan takut. Hayo..gimana pendapat kamu..?"

aku : " Aku sebenarnya ngantuk sekali, lagi2 kau undang aku untuk hal2 nggak bermutu kaya gini. Lain kali lihat sikon dong tuhan, jangan main sikat aja. Apa badan intelijenmu nggak cukup untuk memberi laporan komprehensif tentang konstelasi tata surya..?"

tuhan : " Dasar anak muda pemalas, aku tidak minta banyak waktumu. Kau makhlukku, tapi menyembahku hanyalah kewajiban sukarela buatmu. Kuundang kalian sebagai penyeimbang atas laporan badan intelijenku, karena kau tahu sendiri, sumber primer lebih kupercayai daripada sumber sekunder."

Tiba2 kepalaku seperti terbentur sesuatu, atau lebih tepatnya seperti ditampar. Sakit juga......

aku : " Heh, berani2nya menampar dalam gelap. Siapa tadi..?"

tuhan : " Aku...anak muda tolol. Ganjaran atas kemalasanmu."

aku : " Lagi2 kau sering menghukum tanpa sebab, mengadili tanpa membuktikan bersalah. Tapi baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Kuakui memang ada keresahan global itu, penyalahgunaan namamu, keraguan atas eksistensimu, dan pencarian ambisius akan "blue chip" semestamu. Tapi kukira penyebabnya juga dirimu sendiri koq, kejadian2 itu hanyalah "tripple effect" atas kediktatoran dan keegoanmu. Kalau engkau tidak bersembunyi dibalik jubah semesta, mereka mungkin akan lebih santun dalam hidup."

tuhan : " Aku mau bersembunyi atau tidak, itu hak prerogatifku anak muda. Akulah penguasa tunggal semesta. Akulah tuhan segala tuhan. Akulah tuhan besar dari segala tuhan2 kecil yang kalian ciptakan. Siapapun yang hidup di semestaku, harus tunduk pada kekuasaanku."

aku : " Tuh..kan..!!!. Kau memang Maha Sombong, Maha Keras Kepala, Maha Sok Tahu. Tapi kau musti mikir tuhan, trend sekarang sudah berubah. Semua makhluk merindukan keadilan dan demokrasi. Sudah jarang yang mau tunduk kepada tirani, semua kebenaran harus teruji di hadapan metode ilmiah. Termasuk percaya keberadaanmu, itupun harus dihadapkan dengan metode ilmiah. Kami bukan makhluk bodoh lagi yang percaya begitu saja akan dongeng2 yang diceritakan oleh nenek moyang, kami tidak segoblog yang kau bayangkan mau meyakini dogma2 indah yang ternyata kosong isinya."

Bumi : " Maafkan hamba Paduka Yang Mulia, sekali lagi maaf. Kayaknya anak muda ini ada benarnya juga, setidaknya itulah yang hamba amati akhir2 ini. Trend mempertanyakan segala hal itu bahkan terakselerasi dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, seakan tak ada tabir lagi di dunia."

aku : " tuhan, begini saja...,selama kau menikmati singgasanamu, apakah kau tidak melihat bahwa sebenarnya dari keresahanlah akhirnya timbul solusi baru, dari pemberontakan atas nilai2 bakulah akhirnya muncul ilmu2 baru. Jika saja kami diam membisu dan tidak mulai bertanya akan kejadian2 di semesta, kami akan jalan di tempat dan tidak menemukan hal2 baru di dunia. Renaissance, Aufklarung, Englightment, Pencerahan, Reformasi, Kelahiran Kembali, atau apapun manusia menyebutnya adalah hasil dari keresahan itu Tuhan. Jadi mengapa kau juga ikut resah, toh bagaimanapun polah tingkah manusia, tak sampai menggoyang arasymu"

tuhan :" Kalian boleh resah dan menggerutu, tapi jangan sampai menyekutukan aku dong. Gimana sih kalian ini...?. Harga diriku sangat terobek2 karena kalian hanya menyekutukan aku dengan reformis gagal kayak Yesus, dengan nabi buta huruf kayak Muhammad, dengan tua bangka kayak Guru Nanak, dengan tiran sombong kayak Stalin dan Lenin, dengan diktator narsis kayak Mao dan Kim, dengan dewa2 tolol, dan juga dengan keterbatasan otak kalian."

matahari : " Maaf menyela sebentar, cuman mau nanya Paduka tuhan Yang Mulia. Sebenarnya batas otak kita itu sampai dimana sih..?"

tuhan : " Satu prinsip matahari, berpikirlah tentang ciptaanku, jangan berpikir tentang dzatku, karena otak kalian tak mampu menjangkaunya."

aku : " Nggak bisa gitu dong tuhan. Ketika kami berpikir tentang ciptaanmu, otomatis kami juga berpikir tentangmu, karena pencipta dan yang diciptakan itu terikat hukum sebab akibat. Karena itu lebih baik menganggap otak kami tak terbatas daripada sebaliknya, karena kau tak pernah jelas menggariskan batas itu dimana. Kau bilang kami tak mampu menjangkau dzatmu, lagi2 kau prejudice banget dalam hal ini, sedangkan kau belum pernah memperlihatkan dzatmu pada siapapun di dunia ini."

tuhan :" Dasar anak muda tolol, gunakan otakmu dong. Apakah kau tidak melihat tanda2 keberadaanku di semesta ini, begitu banyak tanda dan kau masih buta. Tanpa melihat wujudku pun, kalau kau mampu berpikir, kau pasti tahu bahwa aku ini eksis."

Kali ini nada bicara tuhan mulai keras, kayaknya dia mulai naik darah. Aku merasakan hawa panas sekali merambat di sekujur tubuhku. Dalam hati aku masih harap2 cemas semoga tuhan tidak seenak udelnya mengeliminasi aku dari pertemuan ini, atau lebih gawat lagi menegasikan hakku untuk hidup dan berpendapat.

bumi : " Anak muda, dari kemesraanku dengan matahari kau dapat belajar, bagaimana gabungan antara gravitasi dan anti gravitasi berkolaborasi dengan indah sehingga mendukung kehidupan di permukaanku. Dari matahari kau dapat belajar dan membuktikan bagaimana tuhan menciptakan hal2 besar dari hal2 yang sederhana dan sepele. Dariku sendiri kau dapat pula belajar, bagaimana perputaranku begitu persisnya sehingga kestabilanku terjaga sedangkan bila satu detik saja perputaran itu berhenti, aku akan hancur terberai. Dan itu semua membutuhkan superior intelligent yang mengaturnya dalam Lauh Mahfudz atau Grand Design semesta."

aku : " Maaf saja bumi, bukti2 yang kamu tawarkan itu sudah terbukti tidak manjur lagi. Semesta ini terbukti chaos, ribut, centang perenang. Tidak ada keteraturan seperti yang kau bilang itu, apalagi desain eksak atas kejadian2. Jikapun ada keteraturan, itu tak lebih hanya kebetulan saja. Karena lebih dari 99,9% berupa ketidak teraturan. Hukum sebab akibat memang selalu terjadi, tetapi hukum sebab akibat yang ada adalah hukum yang harus dalam arti luas diartikan. Satu sebab bisa menghasilkan akibat ribuan bahkan jutaan atau milyaran, dan akibat yang satu mungkin juga dari sebab yang berlainan. Dan sejauh penelitian manusia atas semesta, tidak ditemukan satupun bukti empiris dan meyakinkan bahwa ada sesuatu dibalik terciptanya bintang, galaksi, planet, black hole, pulsar, nebula, dan apapun itu. Semua adalah rangkaian kejadian demi kejadian, tidak ada sesuatupun yang ex-nihilo, sesuatu yang datang begitu saja, tanpa permulaan dan tanpa sebab. Kun fayakun, abrah kadabrah, hocus pocus.............."

Kudengar ada yang tertawa kecil2 sambil sepertinya ditahan, tak beberapa lama juga terdengar suara mengaduh kesakitan.

matahari : " Maaf, maaf, beribu maaf Paduka Yang Mulia. Hamba bukan hendak menertawakan forum ini apalagi Paduka, hamba hanya menertawakan gaya dia ngomong abrah kadabrah, kayak crita Aladdin saja. Sekali lagi maaf Paduka."

Ah rupanya matahari yang ketiban pulung hukuman kecil dari tuhan. Dalam hatiku aku nyukurin, bete banget atas penghormatan hirarkisnya dari awal percakapan tadi.

aku : " tuhan, kau pasti setuju kan kalau waktu itu relatif. Dalam kerangka waktu yang dipunyai manusia, kau punya waktu tidak terlalu lama untuk membuktikan keberadaanmu. Mereka sudah sampai pada tahap siapa yang berada dibalik "big bang" yang diyakini sebagai awal semesta, karena setelah big bang, sekali lagi aku bilang tidak ada bukti yang bisa mereka temukan bahwa ada sesuatu dibalik terciptanya benda2 di semesta. Jika saja, mereka tidak juga menemukan sesuatu yang menciptakan big bang, ditambah lagi mereka menemukan theory of everything, kalau kalkulasiku tidak salah, akan semakin banyak yang memunggungimu tuhan. Dan itu berarti pula lengkaplah kegagalanmu, setidaknya kegagalanmu di bumi."

tuhan :" Memang menjengkelkan makhlukku manusia itu, termasuk kamu anak muda. Lebih menjengkelkan kesok-tahuan kalian tentangku, bertemu aja belum pernah sudah berani2nya bilang utusanku, bagian dari diriku, menjadi makhluk yang mengerti pesan2ku dan mau melaksanakan pesan2ku, dan juga apa itu aku lupa namanya, anggapan bahwa wujud manusia adalah juga perwujudanku...hhmmm aku lupa namanya..."

bumi : " Imago Dei..tuhan."

tuhan : " Pinter kamu bumi, nah itu Imago Dei. Evolusi dari monyet saja mau membandingkan wujudnya denganku, alangkah lancangnya kalian ini. Tetapi dari laporan Jibril, aku kadang mengerti mengapa manusia begitu narsisnya, karena dengan kenarsisan dan ambisi mereka itu ternyata mereka bisa bertahan hidup dan menjadi pemenang dalam "survival of the fittest". Walau jujur aku bilang, kemenangan bagi manusia sangat sering merupakan bentuk penindasan terhadap makhluk2 lain. Dari Jibril aku tahu juga, manusia2 yang membawa pesan kebaikan seperti Muhammad, Yesus, Mani, Zarathustra, Baha'ullah, dan beberapa yang lain kadang2 terpaksa untuk mentransendenkan pesan mereka, bilang bahwa itu dariku, dari tuhan seru sekalian alam, karena memang manusia pada umumnya terlalu bodoh untuk percaya pada kebaikan dan melakukannya dengan senang hati tanpa disertai embel2 bahwa sang pencipta yang memerintahkan itu. Ditambah lagi musti ditambah diimingi nikmat surga dan ditakuti dengan siksa neraka."

bumi : " wah tuhan, maaf menyela sebentar. Apakah neraka dan surga itu juga mitos...?"

tuhan : " Hahahaa.....tentu saja bumi. Surga kalian adalah ketika kalian gembira berbuat baik tanpa pamrih apapun, dan neraka kalian adalah rasa tersiksa ketika menyakiti dan berbuat tidak adil terhadap makhluk lain. Dan tentu saja kenikmatan terbesar makhluk bukanlah surga, tetapi melihat wujudku, bukan dengan mata, melainkan dengan nurani. Mendengarkan suaraku, bukan dengan telinga, melainkan dengan kejernihan hati. Merasakan keberadaanku, bukan dengan kulit, tetapi dengan kepekaan jiwa."

aku : " Nah tuhan, kau sekarang telah masuk neraka buatanmu sendiri, rasa resah dan tersiksa karena ketidakadilanmu."

Tiba2 ada getaran hebat, aku merasakan pusing yang amat sangat, panas sekali serasa api membakar kulitku, kudengar juga suara teriakan sangat keras yang aku tahu pasti bukan dariku sendiri, mungkin matahari atau mungkin bumi, aku tak tahu pasti karena gelap menguasai. Setelah beberapa lama, akhirnya getaran dan panas berkurang sedikit demi sedikit.

tuhan : " maaf, maaf, aku lepas kontrol tadi. Kau berani sekali mulutmu anak muda tolol. Bumi, kau saksi atas ucapanku. Makhluk2ku yang bernama manusia yang telah berani mengatasnamakan aku dalam ajarannya, apakah mereka pernah bertemu aku...?"

bumi : " Tidak pernah Paduka Yang Mulia, itu tak lebih hanyalah imajinasi kreatif mereka saja. Tapi ngomong2, ada beberapa yang jujur minta ampun lho Paduka Yang Mulia. Sidharta Gautama, Blaise Pascal, Ghazali, dan beberapa yang lain lagi telah dengan terang2an bilang bahwa kedekatan denganmu itu hanyalah imajinasi kreatif mereka saja."

tuhan : " Kau dengar sendiri anak muda, betapa diriku dicatut sana sini tanpa sama sekali ijin dariku. Kenapa aku tak berhak marah...?, coba katakan..!!!"

aku : " Sabar dikit napa sih tuhan. Kau berhak marah, itu memang hakmu koq. Tapi kau juga harus introspeksi diri, jika saja engkau lebih transparan mengenai dirimu, mereka tidak akan dengan gampangnya menghayal tentangmu dan menggunakan namamu seenak udelnya."

matahari : " Maaf beribu maaf Paduka Yang Mulia. Jika Paduka sudah tidak tahan lagi dengan makhluk Paduka yang bernama manusia, ijinkanlah hamba memeluk kekasih hamba bumi, biarkanlah kami bersatu. Sekian lama hamba berpisah dengannya, rindu hamba sudah meluluhlantakkan jiwa Paduka. Hamba ingin bersatu dengannya, walaupun setelah itu diri kami hancur bersama. Biarlah setelah itu awal baru tercipta, dengan matahari baru, planet2 baru, makhluk2 baru, sehingga Paduka lebih puas."

tuhan : " Belum waktunya. Kalian, matahari dan bumi, selesaikanlah tugas kalian. Aku tahu kalian saling mencintai, tetapi yakinlah, jarak bukanlah penghalang atas cinta yang tulus nan abadi."

aku : " Wah, begini saja. Boleh atau tidak, bersatulah kalian. Berpelukanlah kalian. tuhan sekalipun tak berhak melarang dua insan yang sedang jatuh cinta."

Cuh..ciuh...cuh....wah sialan, tega2nya tuhan meludahiku, berkali2 pula....

aku : " Kunyuk kau tuhan, diktator tak tahu diri. Oke..oke..!!!!, kuakui aku memang kritis terhadapmu, tetapi sekali lagi itu demi kebaikanmu. Daripada stempel namamu digunakan untuk mengotori tata surya, daripada atas namamu manusia menjadi tiran bagi sesamanya, daripada karena perilakumu semua makhluk semesta kebingungan mencari jati dirinya. Sudahlah, akhirilah keegoanmu itu. Bersikaplah demokratis dan transparan."

tuhan : " Kau pulang sana, besok pagi kau musti kuliah. Dari tadi kau bukan melaporkan sesuatu malah protes terus isinya. Tapi jangan lupa anak muda tolol, berbuat baiklah tanpa pamrih, itu saja pesanku."

aku : " Ya deh...., tapi jangan lupa pula pertimbangkan kritikku. Tapi anyway, untungnya aku dari dulu tidak pernah mengharapkan surgamu. Aku pergi dulu ya...Bye tuhan, matahari, bumi..........."

 

Amsterdam, 7 Maret 2005

 

Visitor of this website up to now :

counter_5.gif