Make your own free website on Tripod.com
Kultus Individu, sebuah penyakit sejarah
Rakyat
Radio & TV Online
Mati Ketawa Cara Saya
Musik & Film Online
Tentang Cinta
Kamus & Buku Online
Pencerahan
Info Penting
My Songs
My Cerpen
My Novels
My Poems
My Articles
Karya Kawan
About Me

 

Malam Natal tahun 2001, saya menghadiri misa Natal bersama teman baik saya di sebuah gereja di Jawa Tengah. Karena sangking banyaknya orang, gereja yang tidak begitu besar itupun menjadi tumpah ruah. Saya mengikuti prosesi misa itu satu persatu, sebelum acara komuni suci tak ketinggalan ada prosesi penggambaran hari kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Dimulai dengan kehidupan perawan Maria sejak kecil yang selalu ditemani oleh teman baiknya (klo menurut saya bisa disebut pacarnya) yang bernama Yusuf. Hingga kelahiran Yesus di suatu malam yang digambarkan di situ langit menjadi cerah penuh bintang, dan bumi dipenuhi oleh malaikat yang turun untuk menyambut kedatangan sang bayi. Inilah bayi yang istimewa, bayi yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah, bayi yang lahir dari Roh Suci Bapa Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Cerita yang lain..........

 

Suatu hari saya berkumpul bersama dengan beberapa muslim (orang2 menyebutnya Islam Jamaah) di sebuah masjid di Nusa Dua Bali, setelah sholat berjamaah bersama, ada semacam diskusi informal mengenai berbagai macam hal, saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di sana memang tidak bisa seharian penuh di masjid karena harus kerja untuk menutupi biaya hidup sehari2. Dalam diskusi itu mereka mulai dengan mengajak saya untuk mengikuti acara mereka secara penuh 3 hari berturut2. Saya dengan halus menolaknya dikarenakan alasan tadi, mereka tampaknya kecewa dan mulai mengemukakan alasan tentang pentingnya acara mereka, dan menjadi sangat penting lagi karena itu adalah sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai salah satu bagian dari dakwah. Dan karena Rasulullah itu Insan Kamil (Manusia yang sempurna), maka hanya Rasulullah Muhammad lah yang wajib kita tiru dalam segala tindak tanduknya.

 

Manusia mempunyai kecenderungan untuk menghormati orang yang mereka kagumi secara berlebihan, dengan penghormatan itu bukan hanya kadang2 bertentangan dengan apa yang dimaui oleh tokoh yang dihormati itu tadi tetapi pula digunakan untuk kepentingan lain dalam hal ini banyak sekali digunakan sebagai alasan untuk kepentingan politik.

 

Yesus, (umat Islam menyebutnya Nabi Isa) adalah seorang yang hebat, berani mendobrak ajaran2 Yahudi yang sudah established pada zaman itu di tanah Palestina. Dia bersama jemaat Getsemani menyebarkan nilai2 baru dan sebagaimana biasanya, nilai baru yang ditawarkan Yesus itu mengganggu kepentingan politik dan ekonomi orang2 yang berkuasa pada waktu itu, dan  akibatnya akhir hidup beliau adalah mati di tiang salib di bukit Golgota, atas perintah Pontius Pilatus, raja yang berkuasa waktu itu. Ajaran Yesus adalah Kasih, Kasih untuk semua orang tanpa terkecuali, orang2 miskin harus dilindungi, orang kaya harus berbagi, dan penguasa harus lebih manusiawi. Yesus seorang guru yang hebat.....tapi apakah benar Yesus itu Tuhan...?

 

Nabi Muhammad, tokoh paling hebat dalam sejarah (menurut pandangan saya sendiri) karena belum pernah ada dalam sejarah dunia ini satu orang yang bisa menjadi presiden, pemimpin agama, jendral perang, suami dari sebuah keluarga, filosof, dan seorang pedagang pada awal karirnya. Muhammad adalah tokoh sentral dalam Islam, kontemplasinya dengan Allah SWT menelurkan Al-Quran dan segala tindak tanduknya melahirkan hadits2 yang sampai abad 21 ini berjuta2 orang dengan sukarela mengikutinya . Akan tetapi benarkah Muhammad itu insan yang sempurna...?. Insan yang segala tindak tanduknya harus ditiru dan tidak punya kesalahan sama sekali.

 

Untuk lebih adilnya kita ambil contoh satu lagi yaitu Sang Sidharta Gautama, yang dianggap sebagai Tuhan oleh penganutnya. Beliau adalah keturunan raja di Kapilawastu yang mencari pengalaman spiritual untuk mencari kebahagiaan hakiki, karena kekuasaaan, kekayaan, dan kemewahan yang telah dia dapatkan ternyata tidak membawanya ke kebahagiaan itu. Dalam kontemplasinya di bawah pohon Bodhi, beliau mendapatkan pencerahan dan akhirnya beliau mengajarkan 8 Jalan Kebenaran dan kesadaran atas samsara dalam diri manusia. Beliau termasuk berumur panjang, dan setelah meninggalnya ajarannya tersebar ke seluruh dunia. Benarkah Budha itu Tuhan...ataukah dia seorang guru spiritual ulung yang dikultuskan...?

 

Masih banyak contoh lain, tapi marilah kita meloncat ke pembahasan lebih lanjut. Benarkah anggapan pengikut2 tokoh2 besar dunia itu yang secara umum mengkultuskan mereka dalam berbagai tingkatan, baik menjadikan mereka sebagai tokoh transenden ataupun menganggap sebagai sumber dari segala sumber (Tuhan)...?.

 

Pertama, dipandang dari sudut pandang psikologi, kecenderungan kultus individu itu sangat normal terjadi. Manusia mencoba untuk mempunyai sandaran yang sekuat mungkin untuk menjadi landasan segala permasalahan kehidupan dari kehidupan sehari2 sampai kehidupan spiritual yang paling dalam. Pada awal tokoh2 itu hidup, mereka adalah orang biasa, dan merekapun minta dianggap sebagai orang biasa dalam arti tidak minta untuk dihormati secara berlebihan, mereka mengajarkan persamaan kedudukan manusia. Permasalahan sering muncul justru ketika tokoh2 itu telah meninggal dunia, orang2 setelahnya mulai memberikan porsi yang tidak semestinya kepada mereka. Dan seiring dengan perkembangan zaman, porsi itu semakin terakumulasi. Dan beberapa orang yang terobsesi oleh tokoh2 itu melabeli tokoh2 itu dengan label yang tidak semestinya mereka dapatkan.

 

Paulus adalah orang yang pertama kali mengajarkan doktrin Trinitas (Kesatuan antara Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. satu dalam tiga, tiga dalam satu) sebuah doktrin sentral dalam Kristiani, yang sebenarnya doktrin ini adalah hasil tawar menawar dengan budaya Helenisme Yunani. Oleh karena itu Paulus sering disebut pula sebagai pendiri teologi ke-Kristenan. Paulus terobsesi akan Yesus dan ajaran2nya dan akhirnya melampaui batas dengan menganggap Yesus lebih dari sekedar seorang guru spiritual yang agung. Yesus sendiri secara pribadi (seperti yang tercatat dalam Bible dan catatan sejarah yang ada) tidak pernah memerintahkan manusia pada zaman itu untuk menyembah dia, dia hanya memerintahkan orang untuk mengikuti ajarannya untuk mendapatkan kerajaan Tuhan Allah, kerajaan yang lebih agung dari kerajaan2 duniawi yang sangat diagungkan oleh orang2 Romawi dan Israel waktu itu. Dalam   Bible Yesus berucap " Aku adalah jalan..." , di sini jelas bahwa beliau adalah peletak dasar jalan menuju kerajaan surga, tapi beliau sama sekali bukanlah Tuhan. Dalam bukunya History of God, Karen Armstrong menyebutkan bahwa Trinitas adalah ajaran yang membingungkan, ajaran yang tidak berakar dari tokoh sentral dalam Kristen itu sendiri yaitu Yesus Kristus. Hans Kung, seorang ilmuwan Kristen bahkan berujar untuk merevisi ajaran Trinitas itu kembali ke semangat awal Kristiani. Yesus adalah seorang manusia agung, itu tidak bisa kita pungkiri, tapi sekali lagi Yesus bukanlah Tuhan ataupun anak Tuhan.

 

Muhammad, masa hidupnya yang penuh perjuangan menuju persamaan kelas, (suatu cita2 yang tidak jauh beda dengan perjuangan kaum komunis) -perlu saya tekankan di sini bahwa komunis tidak berarti atheis- , pembelaannya terhadap kaum proletar* bahkan melebihi para pemimpin2 komunis yang terkenal semacam Lenin atau Stalin bahkan Karl Marx sendiri. Seorang presiden yang di waktu wafatnya masih meninggalkan hutang beberapa liter gandum, seorang penguasa jazirah Arabia yang perutnya sering diganjal dengan batu untuk mengurangi rasa lapar, seorang yang dengan rela memberikan persediaan makan malam yang sebenarnya untuk dia dan keluarganya tetapi diberikan kepada seorang fakir yang meminta2 walaupun itu berarti bahwa malam itu dia dan keluarganya tidak makan. Muhammad adalah contoh realististis, bukan utopia2 semu sebuah cita2 kesejahteraan masyarakat. Tetapi Muhammad bukanlah dewa, Muhammad adalah tetap seorang manusia biasa, dan manusia bisa bersalah seberapapun kecil kesalahan itu. Adalah tidak etis untuk menyampaikan kesalahan2 itu, karena saya tahu pasti akan banyak orang yang berargumen untuk membela Muhammad dan yang lebih jauh lagi mungkin menghalalkan darah siapapun yang mencela Muhammad walaupun celaan itu memang benar adanya.

 

Ajaran sentral Islam adalah sandaran vertikal dan pada saat yang sama sandaran horizontal yang kokoh. Sandaran vertikal berupa ajaran penyembahan satu Tuhan, bahwa yang patut disembah cuma satu, yang patut dihormati dengan segala hormat cuma satu, yang suci dan tidak pernah salah cuma satu, yang patut diberi gelar kemahahebatan cuma satu, yaitu satu Tuhan seru sekalian alam. Dan di saat yang sama sandaran horizontal yaitu rahmatallil 'alamin, perwujudan cita2 kesejahteraan buat alam semesta, kesejahteraan untuk seluruh makhluk hidup tak terkecuali, kesejahteraan yang merata antara yang kuat dan yang lemah, kesejahteraan yang adil antara manusia dan lingkungannya, kesejahteraan abadi yang melingkupi segala yang ada di alam semesta yang amat sangat luas sekali ini (saya menghindari penggunaan maha dalam hal ini karena maha luas hanyalah sifat Tuhan semata).

 

Sidharta Gautama mengajarkan manusia untuk lepas dari samsara, samsara yang disebabkan oleh adanya keinginan manusia, maka manusia dianjurkan untuk mengendalikan keinginan. Sidharta dalam masa awal2 pencariannya melanglang buana ke negeri2 yang ada di India waktu itu, dan belajar dari beberapa guru2 spiritual ulung, akan tetapi pada akhirnya dia berbeda prinsip dengan gurunya dan mendirikan sangganya sendiri. Sidharta Gautama pun menjadi Budha yang Tercerahkan, yang telah mampu menguasai derita, dan tidak larut olehnya. Dia begitu dihormati, Tetapi Sidharta Gautama tidak pernah sekalipun memerintahkan pengikutnya untuk menyembahnya, karena dalam kamus Sidharta Gautama Tuhan itu dibahasakan Nibbana, Nirvana orang Hindu menyebutnya, kondisi nihilitas, pertemuan dengan suatu Tuhan yang transenden yang hanya mampu dipahami dengan meditasi dan kontemplasi. Dan banyak lagi contoh yang lain yang sebenarnya satu inti, manusia cenderung mengkultuskan orang yang dihormati dan dikaguminya.

 

Bagaimana menyikapi hal2 seperti ini di tengah pertarungan global yang kian menggila...? Jawabannya terletak pada hati nurani masing2 pemeluk agama itu, ini adalah waktu untuk berjujur diri, tidak hanya menggunakan agama sebagai alat politik dan alat pembodohan manusia lain, tapi menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan bersama. Memberi proporsi yang adil dan sesuai untuk manusia2 yang dihormati oleh penganutnya, sehingga menghindari kemungkinan penghormatan buta dan menuhankan selain Tuhan. Penggalian sejarah yang cukup komprehensif dan objektif terhadap tokoh2 anutan itu diperlukan sekali lagi untuk menghindari hal2 supranatural yang sengaja dimasukkan dalam kisah hidup mereka, atau pemberian status yang sebenarnya tidak pada tempatnya.

Termasuk dalam berjujur diri ini adalah tidak menginterpretasikan agama dan ajaran tokoh2 itu  dengan interpretasi yang sempit dan sektarian, tetapi berani mengkritisi dan menanyakan kembali semangat2 agama yang berseberangan dengan semangat kemanusiaan dan kedamaian. Agama bukanlah satu2nya jalan untuk mencapai kesejahteraan peradaban manusia, tetapi salah satu di antara sekian banyak jalan2 yg lain.

 

* (kaum miskin, bisa juga diartikan kaum kelas bawah)

 

Visitor of this website up to now :

counter_5.gif